Banner

HIV di Kalangan Usia Muda Jadi Sorotan, Sulsel Siapkan Screening Serentak

 HIV di Kalangan Usia Muda Jadi Sorotan, Sulsel Siapkan Screening Serentak
Banner
Banner

MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id-Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Sulawesi Selatan menaruh perhatian terhadap meningkatnya temuan kasus HIV pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun. Kelompok usia tersebut dinilai perlu mendapat perhatian khusus karena mencakup pelajar hingga mahasiswa.

Hal itu terungkap dalam Rapat Koordinasi (Rakor) KPAP Sulsel bersama pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, organisasi perangkat daerah, serta lembaga pemerhati HIV/AIDS di Hotel Travelers Makassar, Kamis (17/9/2026).

Rakor mengusung tema “Menuju Ending AIDS 2030” dan diikuti para wakil bupati/wakil wali kota, kepala instansi vertikal, kepala dinas, badan dan biro lingkup Pemprov Sulsel, Kacab Dinas Pendidikan Wilayah I-XII, pengelola program HIV/AIDS Dinas Kesehatan kabupaten/kota, sekretaris KPA kabupaten/kota, pengurus KPAP Sulsel, PMI Sulsel, serta LSM pemerhati HIV/AIDS.

Pengelola Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Rasma, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan program screening dan edukasi HIV yang menyasar pelajar SMA, SMK, MA, termasuk pesantren sederajat.

Menurutnya, program tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada Oktober 2026 dan menyasar sekolah di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

“Target kita 10.357,” kata Rasma dalam Rakor KPAP Sulsel.

Ia menjelaskan, angka tersebut disiapkan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Hari Jadi Sulsel dan momentum kesehatan. Namun, target masing-masing kabupaten/kota masih dalam proses pemetaan bersama Dinas Pendidikan dan Kanwil Kementerian Agama.

“Untuk targetnya per kabupaten belum ada sampai saat ini. Kami masih koordinasi-koordinasi dulu,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, screening tidak hanya berupa pemeriksaan, tetapi juga akan disertai edukasi mengenai pencegahan HIV dengan melibatkan pihak sekolah, termasuk kepala sekolah, guru dan guru bimbingan konseling (BK).

Rasma mengatakan, screening nantinya menggunakan formulir untuk mengidentifikasi peserta yang membutuhkan tindak lanjut. Jika ditemukan indikasi yang memerlukan pendampingan, peserta akan diarahkan untuk mendapatkan konseling hingga pemeriksaan lebih lanjut sesuai kebutuhan.

“Harapannya dengan adanya screening dan edukasi di sekolah, kita bisa melakukan upaya pencegahan dengan sosialisasi, dengan pelibatan guru, kepala⁹ sekolah, guru BK,” jelasnya.

Sulsel Masuk 10 Besar Temuan HIV

Rasma menyebut Sulawesi Selatan masih termasuk provinsi dengan jumlah temuan kasus HIV yang tinggi secara nasional.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rakor, Sulsel berada di peringkat kesembilan untuk temuan kasus HIV baru pada periode 2025 hingga 2026.

“Termasuk tinggi. Kita memang selalu di 10 provinsi terbanyak penemuan kasus HIV-nya,” katanya.

Sementara berdasarkan data Dinas Kesehatan Sulsel, tercatat 963 kasus baru HIV/AIDS sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Jumlah tersebut kemudian mencapai 1.075 kasus hingga Agustus 2026.

Rasma mengatakan, pihaknya masih menunggu data hingga akhir tahun untuk melihat perkembangan kasus secara keseluruhan. Sebab, masih terdapat empat bulan yang akan menjadi periode pemantauan hingga Desember 2026.

“Semoga tidak terjadi lonjakan sampai menghampiri lagi angka 2.000. Kita masih menunggu empat bulan ini dulu,” ujarnya.

Ia menyebut, perhatian terhadap kelompok usia 15–24 tahun menjadi salah satu alasan program screening pelajar diperkuat. Dalam tiga tahun terakhir, kelompok usia tersebut disebut terus menunjukkan peningkatan temuan kasus.

“15 sampai 24 tahun itu masih anak sekolah, anak kelas 2, kelas 3, bahkan mungkin yang sudah kuliah,” katanya.

Makassar Perluas Penjaringan

Selain melalui sekolah, upaya penanggulangan HIV juga diperkuat melalui fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya di Kota Makassar.

Rasma mengatakan, Dinas Kesehatan mendorong keterlibatan fasilitas kesehatan swasta agar penjaringan kasus dapat dilakukan lebih luas.

Langkah tersebut termasuk menggandeng rumah sakit swasta, klinik hingga praktik bidan dan dokter.

Menurutnya, perluasan penjaringan diperlukan karena tidak seluruh masyarakat dapat mengakses fasilitas kesehatan tingkat pertama secara rutin, termasuk ibu hamil yang memiliki keterbatasan waktu karena bekerja.

“Makassar sekarang juga lagi digalakkan bagaimana menggalang rumah sakit-rumah sakit swasta, klinik swasta, sampai turun ke praktik bidan,” jelasnya.

Ia mengatakan, reagen screening telah disiapkan untuk mendukung penjaringan di sejumlah fasilitas tersebut. Jika hasil screening menunjukkan indikasi positif, pasien akan dirujuk ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan diagnosis sesuai prosedur.

“Paling tidak penjaringan kita mulai lakukan sampai di praktik bidan atau praktik dokter, klinik-klinik seperti itu,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris KPAP Sulsel Muharram Sahude menambahkan, Rakor tersebut menjadi salah satu ruang untuk menyampaikan program sekaligus membahas bentuk penanganan HIV/AIDS di masing-masing daerah.

Pertemuan tersebut diharapkan memperkuat koordinasi lintas sektor antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, instansi terkait, fasilitas kesehatan dan lembaga pemerhati HIV/AIDS dalam upaya mencapai target Ending AIDS 2030. (RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *