Menanam Sayur, Menanam Harapan: Ikhtiar Pesantren di Malino Membangun Ekonomi Mandiri
MALINO, Radioalmarkaz.co.id- Sebuah lahan kosong di lingkungan Pondok Pesantren Madinah Huffadz Malino mulai dipandang dengan cara berbeda. Bukan lagi sekadar tanah yang belum dimanfaatkan, tetapi peluang untuk membangun sumber penghasilan bagi pesantren.
Dari lahan tersebut, muncul rencana sederhana. Menanam sayuran, tomat, dan berbagai komoditas pertanian yang bisa dikelola pesantren.
Gagasan itu menjadi salah satu hasil dari wawasan yang diperoleh pengelola setelah mengikuti pelatihan pengembangan ekonomi pesantren melalui program Bank Indonesia.
Pimpinan Pondok Pesantren Madinah Huffadz Malino, Andi Fadullah Muhsin, mengatakan pelatihan yang diikuti di Pesantren Muamalat, Kabupaten Pangkep, memberikan pandangan baru bagi pihaknya tentang pentingnya pesantren memiliki kegiatan ekonomi yang produktif.
Pelatihan berlangsung selama tiga hari. Di sana, pengelola pesantren mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan usaha dan bagaimana membangun kemandirian ekonomi.
“Pelatihannya bagus sekali. Kami mendapatkan wawasan dan menjadi lebih terbuka untuk memiliki semangat mengelola pesantren secara mandiri,” ujar Andi dalam wawancara bersama redaksi radioalmarkaz, Rabu (2/09) melalui sambungan telepon.
Bagi pesantren yang masih tergolong baru, pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk mulai melihat potensi yang ada di lingkungan sendiri.
Salah satu yang paling dekat adalah lahan kosong.
“Di sini ada lahan yang kosong. Itu bisa dimanfaatkan untuk pertanian, berkebun, seperti menanam sayuran, tomat, dan sebagainya,” katanya.
Selain pertanian, pesantren juga melihat peluang usaha lain yang tidak kalah dekat dengan kebutuhan sehari-hari, yakni depot air.
Kebutuhan air di lingkungan pesantren cukup tinggi. Masyarakat sekitar juga membutuhkan air, sementara jarak menuju lokasi pembelian air cukup jauh.
Kondisi itu membuat usaha depot air dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan. Jika terealisasi, usaha tersebut tidak hanya menjadi sumber pendapatan pesantren, tetapi juga bisa memberikan manfaat bagi warga sekitar.
“Pesantren juga masih membutuhkan depot air. Jadi bisa menjadi usaha sampingan untuk pesantren sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” jelas Andi.
Namun, rencana tersebut belum bisa langsung diwujudkan.
Persoalan modal menjadi salah satu tantangan. Sebagai pesantren yang masih baru, pengelola masih harus menyiapkan berbagai kebutuhan sebelum usaha dapat berjalan secara optimal.
Karena itu, kemandirian ekonomi bagi Madinah Huffadz Malino bukanlah sesuatu yang bisa dibangun dalam waktu singkat. Ada proses yang harus dilalui, mulai dari memahami pengelolaan usaha, menentukan potensi, menyiapkan modal, hingga memastikan usaha tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
REWAKO dan Jalan Menuju Kemandirian
Upaya mendorong pesantren agar lebih mandiri secara ekonomi menjadi salah satu bagian dari program UMKM dan Pesantren REWAKO yang dijalankan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan.
REWAKO merupakan singkatan dari Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgable. Program tersebut dikembangkan secara menyeluruh, tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan seleksi, kurasi, pendampingan, mentoring, serta monitoring dan evaluasi.
Pada 2026, REWAKO mencakup empat kelompok program, yakni UMKM REWAKO umum, UMKM REWAKO Petani, UMKM REWAKO Ekspor, dan Pesantren REWAKO.
Khusus Pesantren REWAKO, BI Sulsel mendorong penguatan kemandirian ekonomi pesantren sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memberikan pengetahuan kepada peserta, tetapi juga memastikan mereka memiliki kemampuan untuk berkembang.
“Program ini tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga memastikan UMKM dan pesantren memiliki kapasitas untuk berkembang secara berkelanjutan dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” kata Rizki.
Menurut Rizki, pendekatan pendampingan menjadi penting karena setiap pelaku usaha maupun pesantren memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda.
Program REWAKO sendiri telah berjalan sejak 2022 dan terus dikembangkan untuk menyesuaikan kebutuhan pelaku usaha. Pada 2026, program tersebut kembali diperkuat dengan pengembangan yang lebih menyeluruh.
Bagi Pesantren Madinah Huffadz Malino, program tersebut setidaknya telah membuka pintu untuk melihat potensi yang selama ini berada di sekitar mereka.
Lahan kosong bisa menjadi kebun. Kebutuhan air bisa menjadi peluang usaha. Dan pengetahuan dari pelatihan menjadi bekal untuk memulai.
Andi mengatakan, keinginan terbesar pihak pesantren adalah memiliki usaha produktif yang nantinya mampu membantu memenuhi kebutuhan operasional.
Lebih dari itu, ia ingin pesantren tidak terus bergantung pada bantuan dan donasi.
“Kami ingin pesantren bisa mandiri dan tidak terus bergantung pada donasi. Dengan usaha yang produktif, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat untuk pesantren sendiri,” tuturnya.
Harapan tersebut memang masih berada pada tahap awal. Lahan belum sepenuhnya berubah menjadi kebun produktif. Depot air juga masih sebatas rencana.
Namun, bagi sebuah pesantren yang sedang tumbuh, langkah pertama tidak harus selalu besar.
Kadang, ia bermula dari keberanian melihat lahan kosong sebagai peluang.
Dari sana, sebuah gagasan tentang kemandirian mulai tumbuh bersama harapan agar pesantren bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga mampu membangun kekuatan ekonomi yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. (RB)



