Ikbal Ismail: Busana Bling-Bling Jemaah Haji Adalah Ekspresi Budaya
MAKASSAR, Radioalmarkaz.co.id-Kepulangan jemaah haji asal Sulawesi Selatan setiap tahunnya selalu menghadirkan pemandangan khas yang menarik perhatian masyarakat. Salah satunya adalah penampilan sejumlah jemaah perempuan yang mengenakan pakaian berwarna mencolok dan dihiasi ornamen berkilau atau yang populer disebut pakaian “bling-bling” maupun “pakaian Batman”.
Fenomena tersebut kembali menjadi perbincangan menjelang kedatangan jemaah haji Debarkasi Makassar tahun 2026. Namun, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar menegaskan bahwa tradisi tersebut merupakan bagian dari ekspresi budaya masyarakat Bugis-Makassar yang telah berlangsung sejak lama.
Ketua PPIH Embarkasi Makassar, H. Ikbal Ismail, menjelaskan bahwa mayoritas jemaah haji yang berangkat melalui Embarkasi Makassar adalah perempuan. Karena itu, tradisi mengenakan pakaian khas saat kembali dari Tanah Suci masih kerap ditemukan di lingkungan Asrama Haji Sudiang Makassar.
“Berdasarkan data yang ada pada kami, sekitar 65 persen jemaah haji Embarkasi Makassar adalah perempuan. Budaya masyarakat kita, khususnya Bugis-Makassar, ketika pulang dari haji dan tiba di asrama haji, sebagian jemaah perempuan menggunakan pakaian bling-bling atau yang biasa disebut pakaian Batman,” ujar Ikbal.
Menurutnya, penggunaan busana tersebut tidak bertentangan dengan aturan penyelenggaraan ibadah haji karena merupakan bagian dari identitas budaya yang berkembang di tengah masyarakat Sulawesi Selatan.
Ia menegaskan bahwa pihak penyelenggara tidak memiliki larangan terhadap jemaah yang ingin menampilkan ciri khas budaya daerahnya saat tiba kembali di tanah air.
“Kami tidak melarang. Silakan menampilkan diri dengan ciri khasnya. Itu bagian dari budaya masyarakat Sulawesi Selatan,” katanya.
Meski demikian, Ikbal mengingatkan bahwa ekspresi budaya tetap harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap ajaran agama. Jemaah diminta memastikan pakaian yang digunakan tetap memenuhi ketentuan syariat Islam, terutama dalam menjaga aurat.
“Boleh menggunakan pakaian bling-bling atau pakaian Batman, tetapi leher dan bagian-bagian yang termasuk aurat harus tetap ditutup. Karena itu adalah aurat yang wajib dijaga,” tegasnya.
Di Sulawesi Selatan, pakaian berwarna cerah dengan hiasan mencolok saat kepulangan haji telah lama menjadi simbol rasa syukur setelah menunaikan rukun Islam kelima. Bagi sebagian masyarakat, busana tersebut juga menjadi cara untuk mengekspresikan kebahagiaan setelah menyelesaikan perjalanan spiritual di Tanah Suci.
Tradisi tersebut bahkan telah menjadi salah satu ciri khas penyambutan jemaah haji asal Sulawesi Selatan yang kerap menarik perhatian keluarga maupun masyarakat yang datang menyambut di Asrama Haji Sudiang maupun di kampung halaman masing-masing. (*)



