Jelang Armuzna, Kemenhaj RI Larang Jemaah Haji dan KBIHU Gelar Ziarah di Luar Kota
Makassar, Radioalmarkaz.co.id-Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia memperketat pengawasan aktivitas jemaah haji menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Seluruh jemaah, termasuk pembimbing dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), diminta tidak menggelar kegiatan city tour maupun ziarah ke luar Madinah dan Makkah sebelum rangkaian Armuzna selesai.
Kebijakan tersebut disampaikan Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, dalam konferensi pers di Media Center Haji Arab Saudi, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, pembatasan aktivitas di luar agenda utama ibadah dilakukan demi menjaga kebugaran jemaah menghadapi fase terberat dalam pelaksanaan haji.
Saat ini, suhu di Madinah dan Makkah dilaporkan mencapai 38 hingga 44 derajat Celsius sehingga berpotensi memicu kelelahan dan dehidrasi apabila jemaah terlalu banyak melakukan aktivitas tambahan.
“Puncak ibadah haji membutuhkan kondisi fisik yang prima. Karena itu kami meminta seluruh jemaah fokus menjaga kesehatan dan mempersiapkan diri menghadapi Armuzna,” kata Ichsan.
Selain soal pembatasan perjalanan, Kemenhaj juga kembali mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap aturan visa haji resmi. Pemerintah Arab Saudi saat ini menerapkan kebijakan “La Hajj Bilaa Tasreh” atau tidak ada haji tanpa izin resmi.
Ichsan menegaskan, penggunaan visa non-haji seperti visa wisata atau visa ziarah untuk berhaji dapat menimbulkan konsekuensi hukum serius, mulai dari deportasi hingga penahanan oleh aparat keamanan Saudi.
“Kami mengimbau masyarakat tidak mudah tergiur tawaran berangkat cepat menggunakan jalur yang tidak sesuai aturan,” ujarnya.
Untuk mendukung kelancaran kedatangan jemaah gelombang kedua melalui Bandara Jeddah, Kemenhaj juga meminta jemaah sudah mengenakan pakaian ihram sejak dari embarkasi di Indonesia. Langkah ini dilakukan guna mempercepat proses layanan setibanya di Arab Saudi.
Di sektor kesehatan, Kemenhaj mencatat ribuan jemaah telah mendapatkan pelayanan medis sejak awal kedatangan di Tanah Suci. Sebanyak 14.919 jemaah menjalani rawat jalan, 153 jemaah dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), sementara 271 lainnya dirawat di rumah sakit Arab Saudi.
Pemerintah juga menyampaikan kabar duka atas wafatnya dua jemaah Indonesia pada 6 Mei 2026, yakni Akhmad Nurokhman Zaeni asal Brebes dan Aman Satim asal Tangerang. Dengan tambahan tersebut, total jemaah wafat hingga kini mencapai 12 orang.
Menjelang puncak ibadah haji, jemaah diimbau memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pelindung diri seperti payung dan alas kaki saat beraktivitas di luar ruangan, serta memanfaatkan aplikasi Nusuk untuk layanan akses ke Raudhah.
“Kami berharap seluruh jemaah dapat menjaga kondisi fisik dan memusatkan perhatian pada pelaksanaan ibadah haji agar berjalan lancar dan mabrur,” tutup Ichsan. (*)



