Makassar Tembus 10 Besar Kota Toleran Nasional, Lompatan Signifikan di Era Munafri
MAKASSAR, radioalmarkaz.co.id-Kota Makassar mencatat capaian penting di tingkat nasional dengan masuk dalam 10 besar kota paling toleran di Indonesia untuk kategori kota berpenduduk di atas satu juta jiwa.
Pengakuan ini dirilis oleh SETARA Institute melalui Indeks Kota Toleran (IKT) 2026 yang diumumkan di Jakarta.
Prestasi tersebut menjadi penegasan bahwa Makassar tidak hanya berkembang dari sisi ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga mampu menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakatnya.
Di bawah kepemimpinan Munafri Arifuddin, arah pembangunan kota dinilai semakin inklusif dan berorientasi pada penguatan nilai toleransi.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Makassar, Arifuddin Ahmad, menyebut capaian ini sebagai hasil dari kolaborasi yang kuat antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga.
Menurutnya, sinergi tersebut menciptakan ekosistem sosial yang kondusif dan memperkuat praktik kehidupan yang saling menghargai.
“Ini bukan kerja satu pihak, melainkan hasil kebersamaan dalam menjaga nilai toleransi di kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Peningkatan peringkat Makassar terbilang signifikan. Dalam laporan IKT sebelumnya, posisi Makassar masih berada di peringkat 52.
Namun dalam kurun waktu satu tahun, kota ini melonjak hingga menempati posisi ke-9 secara nasional.
Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Ismail Hasani, menjelaskan bahwa lonjakan tersebut mencerminkan adanya perbaikan nyata dalam kebijakan dan praktik toleransi di tingkat kota.
Ia menilai, berbagai program yang dijalankan pemerintah bersama masyarakat mulai menunjukkan dampak yang terukur.
“Ini lompatan yang cukup tinggi dan menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengelolaan keberagaman,” kata Ismail.
Dari sisi kebijakan, Pemerintah Kota Makassar terus mendorong program-program yang memperkuat toleransi, seperti fasilitasi kegiatan keagamaan lintas umat, pemberian hibah kepada organisasi keagamaan, hingga penguatan peran FKUB sebagai ruang dialog dan mediasi.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Makassar, Fathur Rahim, menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil proses panjang dan kerja kolektif berbagai pihak.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pembentukan 10 Kelurahan Sadar Kerukunan sebagai wilayah percontohan untuk memperkuat nilai toleransi dari tingkat masyarakat paling bawah.
Selain itu, Makassar juga sebelumnya meraih Harmony Award 2025 sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan menjaga kerukunan antarumat beragama.
Masuknya Makassar dalam daftar kota toleran menempatkannya sejajar dengan kota-kota besar lain seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, hingga Bandung.
Hal ini sekaligus mempertegas posisi Makassar sebagai kota metropolitan yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga kuat dalam menjaga nilai kebersamaan dan keadilan sosial.
Ke depan, capaian ini diharapkan menjadi motivasi untuk terus memperluas ruang dialog dan mempertahankan konsistensi dalam membangun kehidupan masyarakat yang inklusif, damai, dan harmonis. (*)



