Banner

BPBD Makassar Perkuat Edukasi Kebencanaan, 95 Persen Korban Selamatkan Diri Sendiri

 BPBD Makassar Perkuat Edukasi Kebencanaan, 95 Persen Korban Selamatkan Diri Sendiri
Banner
Banner

Makassar, Radioalmarkaz.co.id – Kepala BPBD Kota Makassar, Fadli Tahar  menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus dimulai sejak dini melalui edukasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak.
Menurutnya, sebagian besar korban bencana sebenarnya menyelamatkan diri sendiri, bukan oleh petugas.

“Dari 100 persen korban terdampak, hanya sekitar 5 persen yang diselamatkan petugas. Sebanyak 95 persen lainnya diselamatkan oleh diri sendiri, tetangga, dan masyarakat sekitar,” ujarnya diPeringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 yang digelar oleh BPBD Kota Makassar di Jalan Kerung-Kerung (eks THR), Rabu (29/4/2026).

Fadli menjelaskan, pihaknya telah mengintensifkan edukasi kebencanaan mulai dari tingkat PAUD, SD hingga SMP. Tujuannya agar anak-anak memahami cara bertindak saat menghadapi berbagai jenis bencana dan tidak panik.

Ia mencontohkan, setiap jenis bencana memiliki penanganan berbeda. Saat banjir, masyarakat harus segera mematikan aliran listrik.

Pada kebakaran, warga dianjurkan merayap untuk menghindari asap beracun yang naik ke atas. Sementara saat gempa, masyarakat harus berlindung di bawah meja.

Selain edukasi teori, BPBD juga memberikan pengalaman praktik melalui metode pembelajaran interaktif, termasuk simulasi dan permainan agar anak-anak lebih mudah memahami situasi kebencanaan.

“Kalau mereka sudah terbiasa, saat bencana terjadi mereka tidak panik lagi dan tahu apa yang harus dilakukan,” jelasnya.

Menghadapi potensi El Nino yang diperkirakan berlangsung mulai Mei hingga Oktober, BPBD Makassar juga telah menyiapkan langkah strategis.

Status siaga akan ditetapkan pada Mei, dilanjutkan apel kesiapsiagaan dan penetapan tanggap darurat.

BPBD juga akan menggandeng berbagai pihak, mulai dari organisasi kemanusiaan seperti Muhammadiyah, Dompet Dhuafa, BASNAS, hingga instansi pemerintah dan relawan.

Dalam menghadapi dampak kekeringan, BPBD memetakan sejumlah potensi risiko seperti krisis air bersih, kebakaran, dan gangguan kesehatan.

Setiap sektor telah ditentukan penanggung jawabnya, mulai dari PDAM untuk air bersih, Dinas Kesehatan untuk penanganan penyakit, hingga pemadam kebakaran untuk potensi kebakaran.

Selain itu, BPBD juga mendorong pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana) dan Kecamatan Tangguh Bencana (Kenchana) untuk memperkuat peran masyarakat dalam mitigasi bencana.

“Dalam kebencanaan, masyarakat bukan hanya objek, tetapi harus menjadi subjek yang ikut berperan aktif. Dengan kolaborasi, semua risiko bisa kita hadapi bersama,” pungkasnya. (RB)

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *