Luwu Utara – ICRAF Indonesia Bersinergi Majukan Pengelolaan Tanaman Kakao

MAKASSAR, RAZFM – World Agroforestry (ICRAF Indonesia) dengan dukungan dari International Fund for Agriculture and Development (IFAD) menjalankan kegiatan Pertanian Berkelanjutan di Bentang Lahan Tropis Asia (the Sustainable Farming in Tropical Asian Landscapes – SFITAL),
Kegiatan ini bekerja bersama dengan MARS, Incorporated, dan Rainforest Alliance-UTZ sebagai mitra kunci.
Komitmen yang kuat dari para pihak untuk mendukung inisiatif ini merupakan salah satu faktor krusial.
Maka dari itu ICRAF dan Cocoa Sustainability Partnership (CSP), menyelenggarakan seminar
Nasional Peta Jalan Kakao Berkelanjutan di Hotel Four Point Makassar, Rabu, (19/10/22).
Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani menjelaskan terdapat 27.200 kepala keluarga di Luwu Timur menjadi petani kakao termasuk perempuan.
“Di Luwu Utara terdapat 27.200 Kepala keluarga yang menggantungkan mata pencahariannya di sektor perkebunan kakao, termasuk didalamnya adalah perempuan,” paparnya.
Ia menuturkan, tanaman kakao yang ada sepenuhnya dikelola oleh masyarakat Luwu Timur, dan keterlibatan perempuan terlihat cukup besar.
“Sebagaimana kita ketahui bahwa tanaman kakao di Luwu Utara itu adalah sepenuhnya tanaman milik rakyat, tidak ada milik perusahaan nah artinya peran perempuan secara langsung didalam perkebunan kakau secara strategis, selain ada budidaya, mereka juga berperan sebagai dalam pengelolaan keuangan keluarga, jadi keterlibatan perempuan sangat intens dan strategis,” ungkapnya.
Kerja sama bersama ICRAF sejak tahun 2020 sampai dengan tahun 2025, ditahap pertama merupakan penyusunan peta jalan yang melibatkan seluruh Stakeholder.
“Tahun pertama telah tersusun peta jalan kakau Lestari di kabupaten Luwu Utara. Peta jalan ini penting dalam merumuskan strategi pendekatan termasuk skema pembiayaan dalam rangka menyukseskan peta jalan yang ditargetkan pelaksanannya sampai 2045, itu jangka panjangnya, untuk jangka pendeknya yaitu penyusunan peta jalan,” ujarnya.
Indah menuturkan Penyusunan peta jalan sangat penting agar panduan lebih jelas dan target lebih mudah di realisasikan.
“Kenapa kita susun ini pertama karena sangat penting untuk menyusun guidance (Panduan), kalau tidak jelas panduannya maka tentu target yang kita tetapkan tentu tidak mudah direalisasikan,” sambungnya.
Lebih jauh, Indah menjelaskan terdapat 5 strategi dan 27 Indikator yang tersusun di peta jalan dengan strategi pentahelix.
“Ada 5 strategi kemudian 27 indikator yang telah disusun di peta jalan dan membagi habis siapa melakuakakn apa kepada pihak dengan kolaborasi pentahelix yang tidak hanya mengandalkan pemerintah, namun swasta, perguruan tinggi, komunitas masyarakat,” paparnya.
Indah menambahkan, untuk peta jalan kakao ini sistem pembiayaan terbuka sehingga masyarakat yang ingin berpartisipasi
Sementara, Direktur ICRAF Indonesia Dr Sonya Dewi mengatakan Kakao merupakan sumber devisa yang signifikan yang dikelola oleh mayoritas petani sehingga termasuk komoditi agroforestri serta potensi besar untuk bisa memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.
Ia mengemukakan pengembangan Kedua komoditas tersebut bertujuan untuk menghubungkan produsen skala kecil dengan rantai suplai global dengan prinsip keberlanjutan lingkungan, kelayakan ekonomi, dan tanggung jawab sosial.
“ICRAF bersama Rainforest Alliance-UTZ dan MARS mengimplementasikan SFITAL yang didanai oleh IFAD tujuannya adalah tercapainya perubahan positif dalam pengelolaan dan produksi sistem pertanian Kakao serta peningkatan usaha tani dan penghidupan petani,” ungkap Sonya.
Kerjasama ICRAF bersama Pemerintah kabupaten Luwu Utara sudah dimulai sejak tahun 2021 ditandai dengan Nota kesepahaman.
“Kami berterimakasih kepada ibu Indah Bupati Luwu Utara dengan dimulainya kegiatan ini ditandai dengan Nota kesepahaman yang di tanda tangani pada 16 Februari 2021,” paparnya.
Dalam konteks pembangunan berbasis komoditas di Kabupaten Luwu Utara, SFITAL memfasilitasi daerah dalam mengintegrasikan berbagai strategi dan program pembangunan kakao menjadi suatu rumusan peta jalan atau roadmap
pengembangan kakao berkelanjutan.
“Berbagai kegiatan yang telah dilakukan adalah pelatihan tingkat kebun, kemudian pelatihan kepada lembaga usaha, dan sebagainya sehingga ini nantinya bisa menjadi bagian dari teori of change terhadap capaian yang dituju dalam proyek SFital ini,” ujarnya.
Kegiatan Seminar tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan dan menguatkan komitmen pengembangan kakao berkelanjutan, serta menjadi bagian dari upaya pengembangan komoditas berkelanjutan yang terintegrasi secara nasional. (SB)



