Makassar Bicara Kota Sehat di Sydney, Urban Farming dan Lontara+ Jadi Sorotan
SYDNEY, Radioalmarkaz.co.id- Kota sehat tidak hanya dibangun melalui rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Lingkungan, ketersediaan pangan, pengelolaan sampah hingga kemudahan masyarakat mengakses pelayanan publik juga menjadi bagian penting.
Gagasan tersebut dibawa Pemerintah Kota Makassar dalam Forum Kota Sehat ke-11 yang berlangsung pada 1-3 September 2026 di Kensington, Kampus University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia.
Dalam forum yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari sejumlah negara tersebut, Pemkot Makassar diwakili Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Makassar, Dr. Firman Hamid Pagarra, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nursaidah.
Makassar menjadi satu-satunya kota dari Pulau Sulawesi yang mendapat undangan dalam forum tersebut. Pengalaman dan praktik Makassar dalam mengembangkan konsep kota sehat dinilai relevan untuk dibagikan dalam forum internasional.
Di hadapan peserta forum, Firman memaparkan tantangan yang dihadapi Makassar dalam membangun kota sehat di tengah urbanisasi, kepadatan penduduk dan perubahan iklim.
Menurut Firman, kesehatan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.
Karena itu, pembangunan kota sehat di Makassar diarahkan tidak hanya pada peningkatan layanan kesehatan, tetapi juga pada upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Salah satu praktik yang dibagikan adalah pengembangan urban farming.
Program tersebut dinilai memiliki manfaat yang lebih luas karena tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan sampah.
“Jadi Kota Makassar dipilih langsung oleh WHO sebagai kota sehat. Kota sehat yang kita bangun bukan hanya orangnya yang sehat, tetapi juga lingkungan yang sehat. Urban farming menjadi salah satu bagian dari upaya ketahanan pangan sekaligus mendorong pengelolaan lingkungan dan sampah menuju Makassar zero waste,” kata Firman.
Selain urban farming, Pemkot Makassar juga memperkenalkan digitalisasi pelayanan publik melalui Super Apps Lontara+.
Firman menjelaskan, sebelum dilakukan integrasi, berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Makassar memiliki aplikasi pelayanan masing-masing. Jumlahnya bahkan mencapai sekitar 358 aplikasi.
Kondisi tersebut kemudian didorong menuju sistem yang lebih terintegrasi melalui Lontara+.
Menurut Firman, integrasi tersebut bukan semata-mata untuk menyederhanakan teknologi pemerintahan, tetapi juga memastikan masyarakat lebih mudah mendapatkan pelayanan dan menyampaikan kebutuhan kepada pemerintah.
“Nah, konsepnya dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan,” ujarnya.
Melalui Lontara+, masyarakat dapat menyampaikan laporan atau kebutuhan yang kemudian diteruskan kepada OPD terkait, termasuk Dinas Kesehatan, untuk mendapatkan tindak lanjut.
“Ketika masyarakat menyampaikan laporan ke Lontara+, lalu diteruskan kepada OPD terkait, termasuk Dinas Kesehatan, untuk mendapatkan tindak lanjut di lapangan. Teknologi harus membuat pemerintah semakin dekat dengan masyarakat, bukan justru membuat pelayanan menjadi semakin rumit,” lanjutnya.
Bagi Pemkot Makassar, digitalisasi menjadi bagian dari ekosistem pembangunan kota sehat. Teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk mempercepat respons pemerintah terhadap kebutuhan warga.
Dalam forum tersebut, Firman juga menyampaikan visi Pemerintah Kota Makassar untuk membangun sistem kesehatan yang inklusif.
Pelayanan kesehatan, kata dia, harus dapat diakses masyarakat secara mudah, tepat dan gratis tanpa membedakan usia maupun latar belakang.
Mulai dari anak-anak hingga lansia, seluruh warga diharapkan memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota sehat di Makassar tidak hanya bertumpu pada sektor kesehatan. Ada keterkaitan antara lingkungan, pangan, pengelolaan sampah, teknologi dan pelayanan publik.
Forum Kota Sehat ke-11 di Sydney pun menjadi kesempatan bagi Makassar untuk berbagi pengalaman bahwa solusi atas persoalan perkotaan tidak selalu harus datang dari kota-kota besar dunia.
Dari Makassar, praktik-praktik lokal terus dikembangkan untuk menjawab tantangan yang juga dihadapi banyak kota di dunia.
Pada akhirnya, gagasan yang dibawa Makassar sederhana: bagaimana sebuah kota dapat terus tumbuh, tetapi tetap sehat, tangguh, inklusif dan mampu memberikan pelayanan yang benar-benar berdampak bagi warganya. (*)



