BBPOM Makassar Sulap Sampah Jadi Bernilai, Gerakan 3R Diperkuat Lewat SIMBA
MAKASSAR, Radioalmarkaz.com — Sampah plastik, kardus, kertas hingga material bekas lainnya tak langsung berakhir di tempat pembuangan di lingkungan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Makassar.
Material tersebut lebih dulu dipilah.
Sebagian diolah menjadi kompos. Sebagian lainnya dikumpulkan melalui bank sampah untuk dimanfaatkan kembali. Bahkan, dalam sebuah lomba, material bekas itu disulap menjadi pot tanaman, tempat sampah, tas belanja hingga karya seni.
Di balik aktivitas tersebut, BBPOM di Makassar tengah membangun kebiasaan baru: memandang sampah bukan sekadar limbah, tetapi sumber daya yang masih memiliki nilai.
Upaya itu diperkuat melalui sosialisasi pengelolaan sampah yang dirangkaikan dengan lomba Reduce, Reuse, Recycle (3R) dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Seluruh pegawai BBPOM di Makassar terlibat dalam kegiatan tersebut. Lurah Tamarunang, Hariaty, serta Penyuluh DLHK Kecamatan Mariso, Abdul Kadir dan Abdul Razak Rukka, hadir sebagai narasumber sekaligus juri.
Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah
Kepala BBPOM di Makassar, Yosef Dwi Irwan, mengatakan persoalan sampah tidak bisa hanya diserahkan kepada petugas kebersihan atau pemerintah.
Menurut dia, perubahan harus dimulai dari kebiasaan setiap individu, termasuk dari lingkungan kerja.
“Jika para pendiri bangsa berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan memanggul senjata, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan menjaga bumi tetap lestari, mengelola sumber daya secara bijak, dan mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang,” ujar Yosef.
Bagi BBPOM Makassar, pesan tersebut diterjemahkan melalui langkah konkret di lingkungan kantor.
Mereka mengembangkan Bank Sampah Ewako BBPOM di Makassar sebagai bagian dari inovasi SIMBA atau Sistem Manajemen Pengelolaan Limbah.
Melalui sistem tersebut, sampah dipilah sejak dari sumbernya.
Sampah organik diolah menjadi kompos. Sementara sampah anorganik seperti plastik, kardus, kertas dan besi dikumpulkan untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
“Pemilahan sampah telah menjadi bagian budaya di lingkungan BBPOM Makassar,” kata Yosef.
Ia menyebut BBPOM di Makassar sebagai satu-satunya UPT BPOM yang telah memiliki bank sampah.
Bank Sampah Ewako BBPOM di Makassar juga telah diresmikan Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D.
Yosef mengapresiasi dukungan Lurah Tamarunang dan penyuluh DLHK yang mendampingi pembentukan bank sampah tersebut.
Ketika Sampah Punya Nilai Ekonomi
Bagi BBPOM Makassar, memilah sampah bukan tujuan akhir.
Ada nilai ekonomi yang ingin diciptakan dari material yang selama ini dianggap tidak berguna.
Sampah anorganik yang telah dipilah dapat dikumpulkan dan ditabung melalui bank sampah. Material yang masih memiliki nilai kemudian masuk kembali ke rantai pemanfaatan.
Konsep itu menjadi bagian dari ekonomi sirkular.
“Kita harus merebranding bahwa sampah yang semula beban dan harus dibuang, namun jika dikelola dengan benar bisa menjadi produk bernilai ekonomi dan sebagai tambahan penghasilan,” ujar Yosef.
Pesan tersebut terlihat dalam lomba 3R yang digelar BBPOM Makassar.
Para pegawai memanfaatkan barang bekas untuk menghasilkan produk baru. Botol, kardus, kertas dan material lainnya tidak lagi sekadar dipandang sebagai sampah.
Di tangan peserta, benda-benda tersebut berubah menjadi barang yang memiliki fungsi.
Lomba itu sekaligus menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan prinsip reduce, reuse dan recycle.
Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah. Reuse mendorong penggunaan kembali barang yang masih layak. Sedangkan recycle memberikan kesempatan kedua bagi material melalui proses daur ulang.
Sampah dan Risiko Kesehatan
Persoalan sampah tidak berhenti pada masalah kebersihan.
Timbulan sampah yang tidak tertangani dapat memunculkan persoalan sosial maupun kesehatan. Bau tidak sedap, lingkungan kumuh, risiko banjir hingga munculnya berbagai penyakit menjadi konsekuensi yang dapat terjadi ketika sampah dibiarkan menumpuk.
Karena itu, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan bersama.
BBPOM Makassar memilih memulainya dari lingkungan sendiri.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap pengendalian perubahan iklim dan komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.
Mengisi Kemerdekaan dengan Menjaga Lingkungan
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi konteks yang memperkuat pesan tersebut.
Jika generasi terdahulu mengisi kemerdekaan dengan perjuangan mempertahankan kedaulatan, generasi sekarang dihadapkan pada tantangan yang berbeda: memastikan lingkungan tetap layak dihuni.
“Menjaga kemerdekaan tidak hanya menjaga kedaulatan bangsa, tetapi juga menjaga ruang hidup tempat generasi Indonesia tumbuh dan berkembang,” kata Yosef.
Dari lingkungan kantor BBPOM Makassar, pesan itu dimulai dari hal yang paling sederhana: memilah sampah sebelum membuangnya.
Sebab, ketika sampah dipilah, material yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat kembali memiliki nilai.
Dan dari kebiasaan sederhana itulah, BBPOM Makassar ingin membangun ekonomi sirkular sekaligus menjaga lingkungan tetap lestari. (*)



