Inflasi Tahunan Sulsel Tembus 4,11 Persen, BI Pastikan Stabilitas Harga Tetap Terjaga
Makassar, Radioalmarkaz.co.id- Laju inflasi tahunan Sulawesi Selatan pada Januari 2026 tercatat mencapai 4,11 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding inflasi nasional yang berada di angka 3,55 persen. Meski demikian, otoritas moneter memastikan tekanan harga masih dalam koridor terkendali.
Data yang dirilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan inflasi bulanan (month to month/mtm) pada Januari 2026 sebesar 0,47 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dibanding Desember 2025 yang tercatat 0,49 persen.
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menjelaskan bahwa tekanan inflasi pada awal tahun terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas perikanan menjadi penyumbang dominan akibat gangguan cuaca yang memengaruhi pasokan dan distribusi.
“Kelompok pangan, khususnya ikan segar, masih memberikan tekanan karena faktor cuaca yang kurang kondusif. Namun secara umum inflasi tetap terkendali,” ujarnya dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Makassar, Jumat (20/2).
Sejumlah komoditas yang mendorong kenaikan harga antara lain emas perhiasan, ikan layang, ikan cakalang, ikan bandeng, ikan teri, serta udang basah. Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi, seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, serta tarif angkutan udara yang menurun setelah periode libur akhir tahun.
Secara spasial, inflasi bulanan relatif lebih tinggi tercatat di Kabupaten Sidrap dan Bone. Sementara itu, Kota Makassar dan Bulukumba mengalami tekanan harga yang lebih rendah.
BI memperkirakan stabilitas harga di Sulawesi Selatan sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran target nasional 2,5±1 persen. Proyeksi tersebut ditopang penguatan pasokan pangan, kelancaran distribusi, serta sinergi pengendalian inflasi antara pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 5,0–5,8 persen, didukung konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas perdagangan yang tetap solid.
Bank Indonesia menilai kondisi ekonomi daerah masih berada pada jalur yang stabil, meski kewaspadaan terhadap potensi gejolak harga pangan tetap diperlukan, terutama menjelang periode meningkatnya permintaan masyarakat. (RB)



